Kriteria Baldrige Sarana Menuju Standar Kelas Dunia

Yayasan Indonesian Quality Award Foundation (IQAF) bisa tersenyum puas. Betapa tidak banyak perusahaan besar terbantu untuk menerapkan sistem Baldrige IQAF hingga menghasilkan kinerja yang ekselen untuk kemajuan perusahaan.

 Sumber : Majalah Agrofarm. Edisi 56.Tahun IV. Maret 2015  (Natalia Lee / Irsa Fitri).

Sukses IQAF itu tercermin dari PT Pembangiqaf penganugerahan 2014 480 aprilkitan Jawa Bali (PJB) sebagai anak perusahaan PT PLN telah yang ketujuh kalinya menerapkan sistem Baldrige untuk mencapai kinerja ekselen. Saat pertama kali menggunakan tool ini (2008), PJB berada pada level early improvement dengan skor 396. Tahun ini, skornya sudah mencapai 617, atau di level emerging industry leader. Kepala Satuan Pengembangan Sistem Manajemen PJB, A Djati Prasetyo mengatakan ini sejalan dengan visi PJB untuk menjadi perusahaan pembangkitan tenaga listrik di Indonesia yang berkualitas dengan standar kelas dunia.

“Sangat membantu bagi leader dan manajemen untuk memperbaiki sehingga bisa menghasilkan kinerja yang ekselen. Selain itu kita juga bisa tahu posisi kita dibandingkan dengan perusahaan yang lain/kompetitor. Karena salah satu ukuran di dalam kinerja Baldrige itu adalah kita harus bisa membandingkan dengan kompetitor kita. Ini sangat membantu untuk meningkatkan daya saing. Sampai tahun 2018 nanti PJB harus mencapai industry leader. Artinya skornya harus diatas 675,” tegasnya.

Djati mengakui dengan kriteria Baldrige yang sistematis, beberapa kriterianya sangat membantu kinerja PJB, dalam arti guna mengetahui bagian-bagian yang masih lemah. Apakah itu kaitannya dengan leadership, produksi, dalam pengukuran, atau hubungan dengan cost. Dengan tool yang diselenggarakan oleh Yayasan Indonesian Quality Award Foundation (IQAF) ini, PJB mengetahui bagian mana yang nilainya rendah dan memperbaikinya. Itulah mengapa dari tahun ke tahun, kinerja PJB terus meningkat.

 

Sejarah Baldrige

Bacelus Ruru, Ketua Dewan Pembina IQAFKetua Dewan Pembina IQAF, Bacelius Ruru, SH, LLM menjelaskan bahwa Baldrige adalah suatu measurement tools yang dikembangkan pertama kali di Amerika pada tahun 1980-an. Amerika yang saat itu dipimpin oleh Pesiden Reagan mengalami resesi, ekonomi Amerika telah dalam kondisi yang sedemikian rupa sehingga sebagian dari perdagangan itu lebih berkonsentrasi dan menguntungkan pihak lain terutama Jepang. Banyak perusahaan Amerika yang diakuisisi oleh Jepang. Maka pemerintah Reagan membuat suatu kebijakan agar perusahaan-perusahaan Amerika lebih kompetitif dan ekonomi Amerika bisa pulih.

“Menteri Perdagangan saat itu adalah Malcolm Baldrige, dan dia diberi tugas oleh pemerintah untuk mengembangkan suatu sistem. Yang kemudian dikenal dengan Malcolm Baldrige Criteria for Performance. Sudah dikembangkan di Amerika, dan setiap tahun ada awarding kepada perusahaan-perusahaan yang dilakukan assessment oleh National Institute for Standard and Technology (NIST),” jabarnya.

NIST adalah badan yang dibentuk untuk menyelenggarakan dan menyiapkan program-program yang berkaitan dengan Baldrige criteria. Setelah tahun 90-an, Malcolm Baldrige Criteria ini mulai juga diterapkan di Indonesia. Beberapa perusahaan besar yang pertama kali menerapkannya antara lain adalah Telkom, Pertamina, dan Krakatau Steel. IQAF sendiri lahir tahun 2005, dibentuk oleh BUMN Executive Club dan Forum Excellency BUMN sebagai kelanjutan program Kementerian BUMN.

“Saya waktu itu adalah sekretaris kementerian. Saya melihat pada waktu itu bahwa supaya kita bisa menyiapkan BUMN, mempunyai daya saing dan lebih terarah pengolahannya, maka tahun 2004 ada sebuah acara dimana 50 BUMN besar menjadi peserta pertama dalam pelaksanaan Baldrige Criteria Assessment,” ujar Ruru.

Sejak pertama dibentuk, sebagian besar perusahaan yang di-assess adalah BUMN. Tapi sejak tahun 2012 sudah mulai ada beberapa perusahaan swasta yang masuk. Salah satunya adalah PT Astra Motor. Perusahaan terbuka memang telah melalui banyak persyaratan dari segi administrasi, keuangan, hukum, dan sebagainya. Namun Ruru mengatakan itu hanya proses yang satu kali saja. Dan bila perusahaan sudah merasa puas seperti itu mungkin akan ketinggalan atau tertinggal kalau tidak ada perbaikan dari waktu ke waktu. Disinilah peran Baldrige Criteria.

Assessment itu memang seharusnya dilaksanakan secara rutin. Seperti kalau kita melakukan medical check up, hasil dari tahun ke tahun akan menunjukan kelebihan dan kekurangan sehingga tahu apa yang harus diperbaiki dan treatment apa yang harus didapat. Kalau sudah sampai di suatu level tertentu, minimalnya dipertahankan, maksimalnya ditingkatkan lagi ke level selanjutnya. Kalau levelnya di situ terus, mungkin akan ada pertanyaan, jago kandang rupanya,” pungkas Ruru.

 

Ingin Tingkatkan Daya Saing Nasional

Kriteria Baldrige yang digunakan untuk menilai kualitas dari suatu sistem dari suatu organisasi dikelompokkan menjadi tujuh kategori, yaitu Kategori Kepemimpinan,Kategori Perencanaan Strategi, Kategori Pelanggan, Kategori Pengukuran Analisis dan Pengetahuan, Kategori Tenaga Kerja, Kategori Operasi, dan Kategori Hasil/Result. Enam kategori pertama adalah persyaratan tentang proses dan yang terakhir adalah hasil.

“Kalau suatu perusahaan ingin dinilai kualitas kinerja sistemnya. Pertama tentu mereka harus memahami dulu apa yang menjadi kriteria, jadi perlu training supaya interpretasinya benar. Kedua, tentu supaya bisa diakses dengan efektif, harus menjawab dulu pertanyaan-pertanyaan. Setelah disatukan, jadilah suatu dokumen yang menggambarkan sistem mereka,” tutur Executive Director of IQAF Tumpal Siregar, MBA.

Setelah itu, dokumen tersebut akan dikirim kepada examiners/tim penilai untuk dipelajari. Examiners akan membuktikan, mengklarifikasi, memverifikasi dan memvalidasi supaya isi dokumen terbukti sesuai dengan kondisi sebenarnya. Setelah itu akan dibuat penilaian yang merupakan total skor dari tiap-tiap kategori yang dijumlahkan. Jumlah tersebut akan ditempatkan di suatu spektrum 0-1000 dengan 8 level. Yang terendah early development dan yang tertinggi World Class atau World Leader.

Selain mengetahui skor dan posisi level berdasar kriteria Baldrige, IQAF juga akan memberikan umpan balik berupa informasi tentang kekuatan (strength), dan hal yang perlu diperbaiki (opportunity for improvement) atas sistem perusahaan yang dipilah-pilah sesuai dengan kategorinya.

“Saya lebih suka mengatakan organisasi. Apakah itu perusahaan, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, sebagai organisasi bisa dinilai kualitasnya dari sistem. Semakin banyak organisasi yang menerapkan dan di-assess itu baik untuk dirinya dan untuk nasional. Karena tujuan utama kami adalah untuk pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan daya saing. Kalau banyak perusahaan berbenah, daya saing nasional akan naik,” jelas Tumpal.

Karena IQAF adalah yayasan, biaya untuk penilaian bisa dibilang tidak mahal bila dibandingkan dengan assessment lainnya. Rate yang dikenakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Misalnya Perusahaan BUMN atau organisasi besar dengan karyawan lebih dari 1000 atau pendapatannya Rp 1 triliun dan ada cabang biayanya Rp 100 juta. Perusahaan menengah Rp 75 juta. Sedangkan organisasi pendidikan dan kesehatan Rp 60 juta. -


 

Sumber: AgroFarm, edisi 56 - Maret 2015

IQA Foundation

logo-iqafIndonesia Quality Award (IQA) adalah bentuk penghargaan terhadap penilaian kinerja ekselen berbasiskan "Kriteria Baldrige". Kriteria ini yang dalam kegiatan IQA diberi istilah Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE)

Website: IndonesianQualityAward.com

 

Kontak

Sekretariat IQA Foundation
Jl. Radio IV. No.5, Keramat Pela, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan - 12130
Tel: (6221) 7264135, 726 4280,